[Fanfiction] The Best For Me

Written by Rijiyo ©2017

OC’s Illa ♠ SVT’s Joshua ♠ SVT’s Hoshi


The Best For Me

Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya hari ini. Tidak saat aku keluar rumah tanpa make up dan berpenampilan apa adanya. Tidak saat tadi pagi aku belum sempat keramas dan mengabaikan rambut yang seperti ketumpahan minyak dan harus terlihat bodoh dengan kedua tangan menggendong keranjang sayur yang baru kubeli di supermarket.

Tidak, ini bukan salahku.

Salahkan Tuhan karena menciptakan hari Minggu.

Aku berpapasan dengannya. Dan aku amat-sangat-tidak mengharapkan hal itu.

“Hai, Josh.”

Ugh, ingin kurobek mulutku karena berani berkata demikian. Bukan keinginanku menyapanya dengan (sok) ceria begini.

Dia tersenyum manis seperti kebiasaannya. “Hai, Ill. Baru dari supermarket?”

“Iya, habis beli sayur buat sarapan. Soalnya Mama lagi sakit, dan kebetulan Kakakku ada kuliah Minggu.” Dan seharusnya aku tidak perlu menjelaskan sedetil ini.

Tanpa sadar, mataku memanas. Sekarang kami berdiri berhadapan di samping toko roti pinggir kota. Tapi mungkin aku harus berterima kasih pada cuaca bersalju kali ini, karena berkat hawa dinginnya, aku jadi bisa memakai mantel tebal guna menyembunyikan fakta kalau aku tengah mengenakan kaus Micky Mouse pemberiannya dulu.

“Kamu tumben jalan-jalan sendiri? Belum lagi kamu enggak suka dingin, kan?” Lagi-lagi aku bertanya.

“Aku lagi bosan. Pacarku kebanyakan tugas, dia enggak bisa meluangkan waktunya buat jalan-jalan.” Dia mengendikkan bahu.

Aku mengembuskan napas yang berasap. Kurasa adegan sinetron ini perlu disudahi. “Begitu, ya.” Aku tersenyum kaku. “Aku harus segera kembali. Mama pasti menunggu, apalagi Kakakku yang bawel itu.”

Dia tersenyum manis (lagi). Sial, dulu senyuman itu berhasil membuat hariku berwarna, tapi kali ini rasanya seperti hunusan pedang Goblin. Setiap bibirnya membentuk kurva, pedang itu seolah semakin menancap di dada. Menyebut nama lengkapnya saja aku enggan. Oke, ini alay.

“Kamu sendiri, bagaimana kabarmu dan pacarmu?”

“Aku enggak punya pacar,” sahutku. “Maksudku, aku sudah punya. Tapi masih belum jadi pacar. Ya, semacam gebetan.” Aku menggaruk kepala. Bodoh sekali. Dia pasti tahu kalau aku bohong. Aku memang belum punya pacar, tapi masa harus pamer kalau aku jomblo? Mau ditaruh di mana mukaku? Aku sungguhan harus pergi dari sini sebelum sinetron ini berubah jadi drama mellow era 80-an. Apalagi sekarang dadaku beneran sakit (aku tidak mendramatisir, sumpah). Mataku semakin memanas. Wajah itulah yang selama sebulan terakhir ingin kulupakan, tapi entah Nyonya Takdir atau Tuan Kebetulan sedang berulah, mereka mempertemukanku dengannya. Padahal sebenarnya aku lebih suka dipertemukan dengan Justin Beiber.

“Apa kamu mau bilang sesuatu? Kalau enggak ada, aku pamit,” ucapku.

Dia menggeleng pelan. “Aku senang melihatmu baik-baik saja.”

Dia senang melihatku baik-baik saja? Kalimat bullshit macam apa itu?

Aku mengangguk meskipun separuh hatiku berteriak betapa tidak tahu dirinya aku. “Aku juga senang kamu baik-baik saja. Dan bisakah aku pergi sekarang? Tangaku capek, nih, bawa karung sayur.”

Dia tersenyum semakin lebar. “Mau kubantu?”

Suaranya yang menenangkan masih tetap sama. Tatapan sedalam palung itu masih berbinar seperti dulu. Sepersekian detik netra kami saling beradu, saat itulah aku sadar kalau aku benar-benar harus pergi. Tak lagi kugubris bantuan ataupun panggilannya. Yang penting aku sudah pamit sesopan mungkin, tanpa meninggalkan kesan bahwa sebenarnya hatiku berdenyut, bahwa sebenarnya aku masih mencintainya.

Aku mempercepat langkah hingga suaranya tak lagi kudengar. Saking cepatnya lajuku, aku tak sengaja menabrak seseorang hingga tubuh kurus ini terjerembab dan sayurnya kececeran di tanah. Aku ingin mengumpat, minta maaf, sekaligus menangis saat ini juga.

Tuhan itu tidak adil. Bagaimana bisa Dia membuatku begini lagi, padahal usahaku melupakannya selama ini masih belum selesai. Semua ini terlalu melelahkan. Tidak etis. Jiwa labilku akhirnya kembali.

Saat aku tengah memungut sayur, sebuah tangan hangat tetiba menggenggam tanganku. Sesuatu yang tak asing.

“Kenapa lama sekali? Seharusnya kamu telepon aku kalau kesulitan membawa belanjaan.”

Dan kali ini aku sungguhan menangis. Biarlah aku menangis di pinggir jalan dalam keadaan jongkok sambil mengambil sayuran yang terjatuh. Bila jadi tontonan gratis pun tak masalah, asalkan aku bisa menangis sepuasnya hingga rasa sakit ini hilang.

“Illa, kamu kenapa?” Kini tangan hangat itu menyentuh pipiku yang dingin, menyalurkan sebersit kehangatan yang takkan pernah kutemukan pada diri Joshua—mantanku yang paling menyebalkan sekaligus kurindukan.

“Hoshi…,” panggilku lemah. Mungkin salah kalau aku bisa menangis sepuasnya di pinggir jalan begini, karena yang ada aku malah malu. Saking malunya, aku sampai tidak berani angkat kepala.

“Sudah, sudah. Ayo kita pulang saja.” Hoshi memunguti sayuran itu, kemudian ditaruhnya di tas belanjaan. Dia menyelempangkan tas tersebut di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya membantuku berdiri. “Jangan menangis, Princess cantik,” bujuknya lembut.

Andai saja Joshua dulu merayuku begitu jika aku sedang labil. Tapi nyatanya, dia malah ikutan sebal dengan berujar kalau aku kekanakan. Aku tidak pernah berharap muluk-muluk, bahkan jika dia bersedia memelukku saat aku tengah down pun sudah mampu membuatku bahagia. Tapi tetap saja Joshua tidak pernah melakukannya. Dia terlalu dingin untukku, jalan pikiran kami terlalu berbeda, namun aku masih kesulitan melupakannya dan itu sangat menyedihkan.

“Kamu mau kugendong? Kelihatannya kamu lagi kurang enak badan,” ujar Hoshi.

Aku mengangguk. Hoshi langsung jongkok di depanku dan aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya. Kemudian, sambil berpegangan, aku kembali membawa belanjaan itu. Aku menyandarkan kepalaku di pundak Hoshi dengan lesu. Mungkin Hoshi memang yang terbaik untukku meskipun perasaanku padanya masih belum sedalam Joshua.

Tapi, bila perasaanku padanya sudah tumbuh, apakah suatu saat nanti dia juga akan meninggalkanku dengan alasan yang sama?

Aku mengembuskan napas panjang, lalu menutup mata. Membiarkan Hoshi membawaku sampai rumah dalam keadaan tidur.

Aku tidak peduli. Pokoknya, aku akan berusaha melakukan yang terbaik jika itu memang yang terbaik untukku.

-FIN-

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s