Not For Me

starring

[NCT’s] Jung Jae Hyun and [OC’s] Luisa Im

Genre : AU!, Slight!Hurt | Rated : PG | Duration : Vignette

By Rijiyo ©2017

.

.

“Harusnya aku tahu, kalau cintanya itu bukan untukku.”

***

.

Jaehyun masuk ke dalam kereta yang mulai melaju, agak tergopoh-gopoh karena harus menenteng sebuah gitar di punggungnya. Pria bermata sipit itu merasa lega karena dirinya tidak ketinggalan kereta lagi, yah menjadi seorang musisi jalanan memang tidak mudah. Akhirnya, setelah berhari-hari mencari uang di stasiun Incheon, Jaehyun bisa pulang dengan naik kereta. Entahlah, pria itu lebih suka naik kereta daripada bus, mungkin supaya bisa cepat sampai.

“Tunggu! Berhenti, kumohon!”

Jaehyun menoleh ketika mendengar suara seorang wanita yang sedang berteriak. Pria itu melongok ke pintu, ternyata ada seorang gadis yang tengah berlari kencang mengejar kereta. Jaehyun yang kebingungan pun sempat hanya memandangi gadis berseragam itu dengan khawatir. Rambutnya yang panjang terus terombang-ambing bebas terkena angin, kakinya yang jenjang terus berlari mengejar laju kereta yang semakin kencang.

Naluri pria Jaehyun tersentuh. Dirinya mengulurkan tangannya ke arah gadis itu. “Ayo, Nona. Raih tanganku!”

Gadis itu ikut mengulurkan tangannya, berusaha meraih tangan Jaehyun. Kakinya terus berlari menyamakan laju kereta. Karena tahu kalau gadis itu mulai kesulitan, Jaehyun pun semakin mencondongkan badanya sedangkan tangan kanannya bertahan memegangi pintu kereta. Dan….

Hup!

Akhirnya gadis itu bisa meraih tangan Jaehyun dan langsung menaikkan tubuhnya ke kereta. Wajah mereka sekarang terlalu dekat, bahkan tangan mereka masih saling menggenggam. Si gadis yang baru sadar itu pun langsung melepas tangannya lalu mengucapkan terima kasih pada Jaehyun.

Jaehyun berdebar.

Gadis itu sangat cantik.

“Sekali lagi terima kasih,” ucap gadis itu sambil tersenyum. Setelah itu, si gadis mencari tempat duduk kosong di kereta. Jaehyun ingin menghampirinya dan bertanya siapa namanya, namun rasanya itu terkesan tidak sopan.

Mungkin esok ada kesempatan.

.

.

.

Hari ini Jaehyun menyanyi di tempat yang sama dengan kemarin. Di pintu gerbang stasiun. Para pejalan kaki yang lalu-lalang tidak keberatan meluangkan waktunya untuk menikmati suara Jaehyun ditambah petikan gitarnya yang merdu. Jaehyun sangat menikmati pekerjaannya ini, karena ia dapat melihat betapa orang-orang menyukai permainannya dan tak jarang memberi uang lebih di stoples yang selalu ia siapkan di depannya.

Sudah hampir tiga jam.

Di mana gadis itu?

Jaehyun menyanyi sambil celingukan ke sana kemari mencari sosok yang ia maksud. Namun nihil. Ia tidak menemukan gadis itu sama sekali.

Apa dia tidak ke sini?

“Aduh!”

Jaehyun menoleh ke arah suara itu dengan cepat. Ya Tuhan, dirinya melihat gadis itu! Gadis yang sempat ia temui di stasiun. Kini gadis itu sedang berjalan dengan terburu-buru menuju kereta. Senyum yang tadi berkembang di wajah Jaehyun seketika pudar. Kenapa gadis itu cepat pergi? Tidak bolehkah Jaehyun sekedar mengetahui namanya?

Saat ini ia kehilangan kesempatan lagi.

.

.

.

Hari ini Jaehyun tidak pergi ke stasiun. Dirinya mencoba mencari peruntungan di tempat lain—Gwangju. Bukan karena tidak bertemu gadis misterius itu, tapi karena Jaehyun bosan mengamen di daerah Incheon—pendapatan yang ia terima selalu tidak pernah lebih dari tiga ratus won, dan ia ingin menambah jumlah nominal uangnya dengan berpindah kota yang agak padat penduduk seperti Gwangju. Yah, semoga saja hari ini menguntungkan.

Dalam senyummu yang secerah musim semi ~ Kau selalu menjadi cahaya bagiku yang telah lelah oleh dunia~ Di hari ketika bintang berhamburan, rembulan tampak ikut berpendar kebiruan ~ Langkah kakimu yang begitu kukenal, terus berjalan menghampiriku dari depan ~ Kau datang dengan membawa kehangatan lewat dekapanmu ~ Bahkan ketika musim dingin datang lagi, kita akan tetap berjalan bersama di ujung jalan yang gelap ~ Jika kau terus menggengam tanganku, dunia yang keras inipun akan seperti musim semi~”

 

Suara Jaehyun begitu indah dengan petikan gitar yang seirama dengan lagu yang ia nyanyikan. Mungkin akan banyak yang tidak percaya kalau lagu itu adalah ciptaannya sendiri. Bahkan dirinya pernah menciptakan lagu dalam waktu kurang dari satu jam, tepatnya dua hari yang lalu, saat ia bertemu gadis itu.

Setelah lagu usai, semua orang yang bergerumul itu bertepuk tangan dengan meriah dan satu per satu memberikan uang di stoples yang sudah di sediakan Jaehyun di depannya. Jaehyun tersenyum dalam hati. Ia juga berterima kasih pada gadis itu karena berkat dirinya, Jaehyun jadi punya inspirasi untuk menulis lagu yang cukup membuat orang-orang terpukau.

Namun saat Jaehyun mengambil uang di stoplesnya, ada sebuah tangan lentik yang memasukkan beberapa lembar uang di stoples itu. Jaehyun tersenyum lagi, lalu mendongak.

Ternyata gadis itu. Jaehyun langsung berdebar lagi (ugh, kali ini lebih kencang).

“Suaramu bagus,” puji gadis itu sambil tersenyum. Tapi gadis itu tidak memakai seragam sekolah seperti kemarin, melainkan lebih mirip seragam pelayan restoran. Jantung Jaehyun berdetak semakin cepat dan cepat. Padahal Jaehyun bukan tipe orang yang mudah grogi, apalagi di depan gadis. Oke, rileks. Biarkan waktu mengalir dengan sendirinya. Biarkan takdir menentukan pilihannya.

“Apa kamu merasa kita pernah ketemu sebelumnya?” Gadis itu bertanya sambil memandang tepat di kelopak mata Jaehyun.

Um… ya… di stasiun Incheon.”

Gadis itu tampak berpikir, lalu tertawa pelan. “Ah, iya. Bukannya kamu yang menolongku saat aku ketinggalan kereta? Ya ampun, kok aku bisa lupa, ya?”

Jaehyun ikut tertawa saat gadis itu tertawa. Dia bertambah cantik.

Jaehyun berdeham, menormalkan detakan jantungnya. Lalu memberanikan diri untuk bertanya, “Siapa namamu, Nona?”

“Luisa. Namaku Luisa Im.” Gadis itu—atau Luisa—tersenyum lagi. “Aku bekerja paruh waktu di kafé itu. Blue Café. Sebenarnya sih aku masih kelas tiga SMA.” Luisa tertawa lagi sambil menggaruk rambut panjangnya yang tidak gatal. Jaehyun lagi-lagi ikut tertawa. Entahlah, pria itu jadi mudah sekali tertawa saat melihat Luisa tertawa.

“Oh iya, namamu siapa?”

“Namaku Jung Jaehyun. Rumahku di Seoul.”

“Seoul? Whoa, Jauh sekali? Bukannya kemarin kita ketemu di stasiun Incheon? Kenapa tiba-tiba kamu pindah ke sini? Nggak kejauhan?” Luisa tak habis pikir. “Biar kuberi tahu, di sini udah jarang ada pengamen jalanan. Kamu tahu sendiri kan kalau polisi Gwangju itu pelayanannya sangat ketat? Mereka selalu melakukan patrol dan mengusir para pengamen. Jadi, kamu harus hati-hati.”

Jaehyun tersenyum untuk yang kesekian kali. Ternyata Luisa adalah gadis yang sangat ramah. Kalau seperti ini caranya, sanggupkah Jaehyun melihat Luisa pergi lagi?

“Aduh, aku terlambat. Aku harus balik ke kafe,” kata gadis itu sambil memasang tampang menyesal.

“Nggak apa-apa. Kamu kan memang harus bekerja.”

“Okelah. Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Senang bertemu denganmu, Jaehyun.”

Luisa melambaikan tangannya lalu membungkuk sopan di depan Jaehyun. Namun saat Luisa baru melangkahkan kakinya beberapa meter, Jaehyun memanggilnya.

“Luisa!”

“Ya!” Luisa meoleh, menghadap Jaehyun lagi meskipun jarak mereka lumayan jauh.

“Apa kita bisa ketemu lagi? Besok aku bakal nyanyi di sini lagi. Kamu mau melihatnya, kan?”

Luisa mengangguk antusias. “Pasti! Besok kamu harus bawa ember karena aku mau kasih sepuluh juta won!”

“Janji, ya! Besok! Jam empat!”

“Ya! Sampai jumpa!”

“Sampai jumpa!”

Luisa berlari. Gadis itu bahkan tidak menoleh ke belakang lagi—sama sekali tidak. Atau mungkin hanya Jung Jaehyun yang terlalu berharap.

.

.

.

Jaehyun betemu Luisa sore ini. Dia sedang menangis di depan kafe sambil membersihkan kaca. Sungguh lucu ekspresinya.

“Halo, Nona.”

Luisa cepat-cepat menghapus air matanya. “Halo. Selamat dat—Eh, Jaehyun?”

Luisa mempersilakan Jaehyun duduk. Ketika gadis itu akan mengambilkan buku menu, Jaehyun menahannya pergi. “Aku datang ke sini bukan untuk pesan makanan. Aku cuma mencarimu.”

“Kenapa mencariku?”

“Kamu lupa, ya? Bukannya kemarin kamu yang bilang mau melihatku menyanyi? Aku daritadi menunggumu, tapi kamu nggak datang-datang. Ya udah, aku datangi aja tempat ini.” Jaehyun menjelaskan sambil tersenyum. “Aku bahkan sudah menyiapkan ember buat menerima sepuluh juta won dari kamu.”

Luisa tertawa lebar. “Sorry. Hari ini aku sibuk banget soalnya. Maaf juga karena nggak bisa memberitahumu dan membuatmu menunggu. Terus mana embernya? Kebetulan di dompetku masih ada lima puluh ribu won.” Luisa pura-pura melihat dompetnya yang bahkan hanya berisi kartu pelajar dan beberapa lembar uang lima ratus won. Kemudian mereka berdua tertawa lagi.

“Aku cuma bercanda.”

“Aku tahu. Lagian mustahil banget kalau aku mau memberimu uang sebanyak itu.”

“Oh iya, ngomong-ngomong, kenapa tadi kamu nangis?”

“Nangis?” Luisa tampak pura-pura berpikir, lalu tertawa aneh. “Siapa yang nangis?”

“Aku tadi lihat sendiri.”

“Enggak. Aku nggak nangis.”

“Kamu nggak mau cerita sama aku?”

“….”

“Kita emang baru kenal. Tapi apa salahnya sih berbagi?”

Luisa terdiam. Apa ia perlu menceritakan bebannya pada Jaehyun? Mereka baru beberapa hari saling mengenal, dan apakah Jaehyun orang yang bisa dipercaya dalam urusan ‘menjaga rahasia’? Ini memang bukan masalah besar, hanya saja Luisa bukan tipe gadis yang akan sembarangan menceritakan tentang dirinya pada orang lain—apalagi yang baru dikenal. Tapi Jaehyun selalu terlihat seperti orang baik, dan Luisa sedikit banyak yakin akan hal itu.

“Nggak apa-apa nih kalau aku curhat?”

“Nggak apa-apa. Silakan.”

Luisa menghela napas. Mungkin tidak ada salahnya kalau harus menceritakan—sedikit—masalahnya pada Jung Jaehyun. Luisa membuka mulut, mulai membagi bebannya kalau kemarin dirinya baru saja putus dengan pacarnya yang bernama Taeyong. Gadis itu sangat sedih hingga tidak bisa tidur semalaman. Taeyong adalah cinta pertamanya dan tentu akan jadi sangat berat kalau harus dilupakan begitu saja. Taeyong memang bukan satu-satunya pria di dunia, tapi bagi Luisa ia hanya bisa melihat pria itu.

“Udahlah, nggak usah dipikirin terus. Kamu masih bisa cari cowok lain. Toh, kamu juga cantik, nggak bakalan susah kok nyari pengganti.” Jaehyun menepuk-nepuk jemari Luisa yang lentik. Dirinya memang bukan ahli dalam urusan percintaan seperti ini, ia juga tidak begitu tahu apa yang harus ia lakukan saat melihat ada seorang gadis yang menangis. Jaehyun tidak tahu apa-apa tentang wanita karena baru kali ini dirinya menempatkan perhatiannya pada seorang gadis yang mampu membuatnya tidak bisa berpaling. Seorang gadis yang dengan mudah membuatnya berdebar. Seorang gadis yang membuat Jaehyun harus mengaku kalau pria itu menyukainya.

“Kamu benar, Jaehyun. Kenapa juga aku musti nangisin Taeyong? Aku kan bisa jatuh cinta lagi. Bahkan kalau Tuhan sudah berkehendak, aku juga bisa jatuh cinta sama kamu.”

Aduh, kenapa malah jadi begini?

.

.

.

Sebulan telah berlalu. Dan setiap akhir pekan, Jaehyun menjadi pelanggan setia Blue Café sesudah mengamen. Hubungan mereka berdua semakin dekat hingga predikat Jaehyun sebagai sahabat mulai melekat di hati Luisa. Mereka juga sering menghabiskan waktu bersama; Mengobrol panjang lebar, tertawa, bahkan mereka sudah berani berkata kasar dan tak jarang saling memukul kalau sedang bercanda. Luisa benar-benar merasa kalau Jaehyun sudah termasuk bagian dari hidupnya. Jaehyun bukan tipe orang yang akan meminta imbalan saat ada yang memerlukan bantuan, dan Luisa sangat menyukai sifatnya yang itu. Luisa juga cenderung bisa bersabar karena karakter Jaehyun yang agak tertutup dan pendiam. Mereka berdua bisa saling mengimbangi. Melengkapi. Mereka bisa menjadi racun dan penawar untuk satu sama lain.

“Jaehyun!”

Luisa berteriak girang saat Jaehyun baru saja datang di Café Blue. Gadis itu tiba-tiba memeluk Jaehyun erat-erat seperti enggan kehilangan pria itu. Jantung Jaehyun seakan mau copot. Selama sebulan mereka kenal, baru kali ini Luisa memeluk Jaehyun. Itu sebabnya Jaehyun tampak salah tingkah dan sedikit tersipu yang untungnya Luisa tidak begitu menyadari.

Luisa melepas pelukannya, mencubit kedua pipi Jaehyun dengan gemas hingga pria itu mengaduh, lalu berkata, “Tau nggak? Hari ini aku seneeeeeeng banget….”

“Seneng soalnya aku ke sini?”

“Ih, pede amat. Ya enggak lah.”

“Terus?”

“Aku… jatuh cinta lagi sama cowok!”

Senyum Jaehyun langsung mengembang.

“Oh iya? Siapa?”

Semoga itu aku, batin Jaehyun. Pria itu berharap-harap cemas.

“Namanya….”

“Namanya?”

“Jung….”

“Jung….?”

“Jung….”

“Jung….?

“Chanwo!”

Bagaikan petir yang begitu menggelegar di pertengahan musim semi, seperti ada sesuatu yang sedang menyambar hati Jaehyun. Jung Chanwo? Luisa tidak salah bicara, kan? Siapa itu Jung Chanwo? Kenapa tidak dirinya? Bagaimana ya perasaannya sekarang? Sakit? Perih? Terkejut? Jaehyun hanya bisa mematung ketika Luisa sibuk tertawa sendiri. Pikirannya kosong dan otaknya seakan mati fungsi. Isi kepalanya menghitam, lalu memutih lagi. Jaehyun sedang bergulat dengan perasaan rumitnya sendiri.

Selama ini, Jaehyun selalu berpikir kalau suatu saat nanti Luisa akan mencintainya. Tapi ternyata tidak. Jaehyun terlalu percaya diri akan perasaannya.

Mungkin mereka memang hanya di takdirkan sebagai sahabat.

Tak lebih dari itu.

Jaehyun tersenyum pahit, berusaha menerima apa pun yang terjadi karena bisa mengenal Luisa dan menjadi sahabatnya saja sudah lebih dari cukup. Well, walaupun begitu, Jaehyun tetap berpikir bahwa ia harus mengahadapi kenyataan kalau Luisa memang tidak mungkin ia miliki, kan?

.

.

.

.

.

_Fin_

A/N:

Aduh duh, kok aku bikin mas Jae jadi tukang ngamen gini, ya? Huhuhu maafkan dakuh mas :’3 Dakuh cuma menjalankan profesi (ampun! 😀 Sukanya bawa-bawa profesi)

a46.jpg

Luisa 😀 ❤

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s